Gay Host’s Alleged Sexual Harassment Towards Popular Male Model Triggers Massive Fury Online

Gay Host’s Alleged Sexual Harassment Towards Popular Male Model Triggers Massive Fury Online

Reaksi publik meledak seketika setelah klip tersebut tersebar luas di Twitter dan komunitas daring lainnya. Banyak penonton, terutama penggemar setia WHIB, merasa bahwa tindakan tersebut tidak hanya tidak pantas, tetapi juga sangat merendahkan martabat sang idola muda. Salah satu komentar netizen yang paling banyak mendapat dukungan menyatakan keinginan agar acara tersebut segera dihentikan atau dibatalkan sepenuhnya. Netizen tersebut menuliskan rasa frustrasinya dengan mengatakan bahwa mereka ingin acara ini dibatalkan karena merasa muak melihat banyaknya "korban" yang muncul dari format acara tersebut. Menurutnya, tindakan tersebut sama sekali tidak lucu, tidak memberikan inspirasi, dan justru membuat penonton merasa tidak nyaman hingga ingin muntah karena merasa kasihan pada para tamu yang harus menghadapi situasi canggung seperti itu.

Kontroversi ini juga membuka diskusi yang lebih luas mengenai standar ganda dalam industri hiburan Korea Selatan terkait pelecehan seksual. Banyak netizen mempertanyakan mengapa tindakan pelecehan yang dilakukan oleh individu dari komunitas LGBTQ+ terhadap sesama jenis sering kali dianggap sebagai lelucon atau bagian dari komedi, sementara tindakan serupa antara lawan jenis akan langsung memicu tuntutan hukum dan pembatalan karier. Seorang netizen menyoroti hal ini dengan tajam, menanyakan mengapa masyarakat cenderung menertawakan atau memaklumi pelecehan seksual jika pelakunya adalah seorang gay. Pendapat ini mencerminkan keresahan publik bahwa identitas seksual seseorang tidak seharusnya menjadi "kartu bebas" untuk melanggar ruang pribadi atau batas fisik orang lain tanpa persetujuan yang jelas.

Kritik semakin tajam ketika netizen memperhatikan ekspresi wajah Lee Jeong dan tamu lainnya yang tampak sangat tidak nyaman namun terpaksa tetap bersikap sopan karena status mereka sebagai idola pendatang baru yang harus menjaga citra di depan senior. Dalam industri K-Pop yang sangat hierarkis, tekanan bagi artis muda untuk mengikuti keinginan pembawa acara senior sangatlah besar, yang menciptakan dinamika kekuasaan yang timpang. Beberapa komentar menyatakan bahwa Hong Seok Cheon sering kali "melewati batas" hanya karena ia merasa berada dalam lingkungan sesama pria, namun publik menegaskan bahwa privasi dan persetujuan tetaplah mutlak tanpa memandang gender atau orientasi seksual.

Beberapa penggemar juga menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya seri Jewel Box mendapatkan kritik atas kontennya yang dianggap terlalu berani dalam mengeksploitasi daya tarik visual para idola pria. Meskipun konsep acara ini memang bertujuan untuk "mengapresiasi" ketampanan para tamu pria, tindakan fisik seperti mencium tanpa izin dianggap telah merusak esensi hiburan dan berubah menjadi tindakan yang bersifat predator. "Mengapa mereka tiba-tiba membawa idola populer untuk melakukan hal-hal yang menjurus pada pelecehan seksual? Ini benar-benar menjijikkan," tulis seorang netizen lain yang merasa bahwa tindakan tersebut sangat merusak citra industri hiburan yang seharusnya aman bagi semua pihak.

Hingga saat ini, kemarahan publik terus meningkat dengan tagar yang menuntut pertanggungjawaban dari tim produksi Jewel Box dan Hong Seok Cheon sendiri. Banyak yang mendesak adanya permintaan maaf resmi dan perubahan format acara agar lebih menghormati batasan fisik para tamu. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi industri penyiaran di Korea Selatan bahwa norma-norma sosial mengenai konsensus dan pelecehan seksual telah bergeser secara signifikan. Penonton masa kini tidak lagi mentoleransi perilaku yang dianggap melanggar hak asasi individu, meskipun dibalut dalam kemasan komedi atau varietas.

Di tengah tekanan yang terus berlanjut, video episode lengkap tersebut masih tersedia di kanal YouTube mereka, namun kolom komentar terus dibanjiri oleh kritik pedas dari netizen internasional maupun domestik. Skandal ini tidak hanya mengancam kelangsungan acara Jewel Box, tetapi juga memicu perdebatan panjang mengenai bagaimana media seharusnya memperlakukan artis muda dan di mana garis batas antara hiburan yang menghibur dan pelecehan yang merugikan harus ditarik dengan tegas. Publik kini menunggu apakah akan ada tindakan nyata dari pihak manajemen artis atau otoritas penyiaran untuk menanggapi tuntutan pembatalan acara tersebut demi melindungi para idola di masa depan dari pengalaman serupa yang traumatis.