Ketua MPR: Ulama Jadi Penjaga Optimisme Rakyat Aceh Pascabencana

Ketua MPR: Ulama Jadi Penjaga Optimisme Rakyat Aceh Pascabencana

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, menekankan peran vital ulama sebagai penjaga optimisme dan keteguhan hati masyarakat Aceh pasca-bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Penegasan ini disampaikan dalam forum silaturahmi antara Pimpinan MPR RI dan ulama Aceh di Pondok Pesantren Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, pada hari Rabu, 11 Februari 2026.

Muzani menggambarkan bencana tersebut sebagai ujian multidimensional bagi masyarakat Aceh, bukan hanya menguji ketahanan fisik dan ekonomi, tetapi juga kekuatan mental dan spiritual. Dalam konteks inilah, peran ulama, para abu, masyayikh, dan pimpinan dayah menjadi sangat krusial. Kehadiran mereka diharapkan mampu menenangkan umat, menjaga harapan, dan membangkitkan kembali semangat juang masyarakat Aceh.

Lebih lanjut, Muzani menekankan bahwa bantuan material dan pemulihan infrastruktur, meskipun penting, tidaklah cukup. Menjaga harapan dan keyakinan masyarakat, menurutnya, jauh lebih penting agar Aceh tidak terjerumus dalam keputusasaan dan kehilangan arah pasca-bencana. Ia meyakini bahwa dengan bimbingan ulama yang teduh dan bijaksana, Aceh akan tetap tegak dan masa depannya tetap cerah.

Kunjungan Pimpinan MPR RI ke Aceh merupakan kunjungan kedua sebagai wujud empati, solidaritas, dan dukungan moral kepada masyarakat Aceh. Pada kunjungan sebelumnya, MPR RI telah menampung aspirasi dari kepala daerah terkait percepatan pembangunan hunian sementara, pemulihan jalan nasional dan provinsi, pemulihan pasokan listrik, serta kelancaran distribusi BBM dan gas LPG 3 kilogram.

Aspirasi tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden, dan Muzani mengapresiasi respons cepat pemerintah dalam menindaklanjuti aspirasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa jalur Banda Aceh–Medan telah kembali membaik, akses antar wilayah telah tersambung, dan pasokan listrik telah pulih hingga 99 persen. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masih ada sekitar 23 desa yang membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisi geografis yang sulit.

Selain itu, Muzani menyoroti pentingnya menjaga tradisi meugang menjelang Ramadan sebagai bagian dari kearifan lokal dan budaya keagamaan masyarakat Aceh. Meugang, yaitu tradisi menyembelih hewan ternak dan memasak daging untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat kurang mampu, merupakan bagian penting dari persiapan menyambut bulan suci Ramadan.

Muzani menyadari adanya keterbatasan populasi ternak akibat bencana, yang dapat mengganggu pelaksanaan tradisi meugang. Oleh karena itu, ia berjanji akan menyampaikan permintaan ini kepada Presiden dan berupaya mencari solusi bersama agar tradisi meugang tetap dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam kesempatan tersebut, Muzani menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ulama Aceh yang telah menjadi pilar ketenangan dan optimisme umat. Ia mengakui bahwa bekal spiritual saja tidak cukup tanpa harapan dan optimisme. Para ulama, menurutnya, memiliki peran besar untuk menjaga agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusasaan, kemarahan, atau saling menyalahkan.

Muzani mengingatkan bahwa keyakinan mengajarkan bahwa setiap ujian datang dari Allah SWT, dan siapa yang mampu melewatinya dengan sabar, Allah akan meninggikan derajatnya. Ia mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersabar, tegar, dan terus berusaha bangkit dari keterpurukan.

Memperdalam Peran Ulama dalam Pemulihan Pascabencana

Pernyataan Ahmad Muzani tentang peran ulama sebagai penjaga optimisme rakyat Aceh pascabencana bukan hanya sekadar retorika. Di Aceh, ulama memiliki posisi yang sangat dihormati dan pengaruh yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga panutan moral, penasihat, dan mediator dalam berbagai persoalan sosial.

Pasca-bencana, peran ulama semakin penting dalam memberikan dukungan psikologis, spiritual, dan sosial kepada masyarakat yang terdampak. Mereka hadir di tengah-tengah masyarakat, memberikan ceramah, tausiyah, dan motivasi untuk bangkit kembali. Mereka juga membantu mengorganisir kegiatan gotong royong, penggalangan dana, dan penyaluran bantuan kepada korban bencana.

Selain itu, ulama juga berperan penting dalam menjaga kerukunan dan persatuan masyarakat pascabencana. Mereka mengingatkan masyarakat untuk tidak saling menyalahkan, tetapi saling membantu dan bekerja sama untuk membangun kembali Aceh. Mereka juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai sumber kekuatan dan harapan.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Meskipun peran ulama sangat penting dalam pemulihan pascabencana, mereka juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun finansial. Banyak ulama yang juga terdampak bencana, sehingga mereka membutuhkan bantuan dan dukungan untuk dapat menjalankan perannya secara efektif.

Selain itu, ulama juga menghadapi tantangan dalam menghadapi berbagai isu sosial yang muncul pascabencana, seperti trauma, depresi, dan konflik sosial. Mereka membutuhkan pelatihan dan pendampingan untuk dapat memberikan konseling dan mediasi yang efektif kepada masyarakat yang membutuhkan.

Namun demikian, di tengah berbagai tantangan tersebut, ada harapan besar bahwa ulama Aceh akan terus berperan aktif dalam memimpin pemulihan pascabencana dan membangun kembali Aceh yang lebih baik. Dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, ulama Aceh dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam mewujudkan Aceh yang sejahtera, adil, dan makmur.

Implikasi Lebih Luas dari Peran Ulama dalam Mitigasi Bencana

Penekanan pada peran ulama dalam menjaga optimisme pascabencana di Aceh memiliki implikasi yang lebih luas dalam konteks mitigasi bencana secara nasional. Hal ini menyoroti pentingnya melibatkan tokoh agama dan komunitas keagamaan dalam upaya penanggulangan bencana secara komprehensif.

Tokoh agama, dengan pengaruh moral dan spiritual yang mereka miliki, dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam menyampaikan informasi tentang risiko bencana, langkah-langkah pencegahan, dan tindakan yang harus diambil saat terjadi bencana. Mereka juga dapat membantu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana.

Selain itu, komunitas keagamaan dapat menjadi basis untuk membangun jaringan relawan dan penggalangan dana untuk membantu korban bencana. Mereka juga dapat menyediakan tempat penampungan sementara, makanan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya bagi korban bencana.

Dengan melibatkan tokoh agama dan komunitas keagamaan dalam upaya penanggulangan bencana, kita dapat membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi bencana. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kesimpulan: Investasi pada Ketahanan Spiritual dan Sosial

Pernyataan Ketua MPR Ahmad Muzani tentang peran ulama sebagai penjaga optimisme rakyat Aceh pascabencana menggarisbawahi pentingnya investasi pada ketahanan spiritual dan sosial masyarakat. Bantuan material dan pemulihan infrastruktur memang penting, tetapi tidak akan efektif jika masyarakat kehilangan harapan dan keyakinan.

Ulama, sebagai pemimpin spiritual dan panutan moral, memiliki peran kunci dalam menjaga harapan dan keyakinan masyarakat. Mereka dapat memberikan dukungan psikologis, spiritual, dan sosial yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk bangkit kembali dari keterpurukan.

Oleh karena itu, pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu memberikan dukungan yang memadai kepada ulama dan komunitas keagamaan agar mereka dapat menjalankan perannya secara efektif. Dukungan ini dapat berupa pelatihan, pendampingan, sumber daya finansial, dan fasilitas yang memadai.

Dengan berinvestasi pada ketahanan spiritual dan sosial masyarakat, kita dapat membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi bencana. Hal ini akan mempercepat proses pemulihan pascabencana dan mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Pada akhirnya, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi dan infrastrukturnya, tetapi juga dari kekuatan spiritual dan sosial masyarakatnya. Kisah Aceh mengajarkan kita bahwa harapan, keyakinan, dan persatuan adalah modal utama untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun masa depan yang lebih baik. Peran ulama dalam menjaga ketiga hal tersebut tak ternilai harganya.